Skip to main content

Kenapa SRIL Pelit Dividen?

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing.

Kali ini kita akan membahas, kenapa SRIL pelit dividen?

Posting kali ini terinspirasi dari seri video 100 ribu saya sebelumnya, ini link-nya. Di posting itu saya ketemu walau laba SRIL cenderung terus meningkat, tapi dividen-nya segitu2 saja, malah cenderung makin kecil.

Di posting kali ini saya telusuri dan plot angka – angka di laporan finansial SRIL dari tahun 2015 sampai dengan 2019 untuk menemukan, kenapa SRIL pelit dividen?

Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date: https://t.me/MommyBellugaInvesting  

Versi video dari blog ini bisa diakses di YouTube melalui link ini: https://youtu.be/jPSryA_8lUw


Gambaran Umum


SRIL adalah kode saham PT Sri Rejeki Isman Tbk atau lebih populer dikenal sebagai Sritex. Sritex bergerak di adalah perusahaan tekstil dari hulu ke hilir. Lini usahanya mulai dari Pemintalan (Spinning), Penenunan (Weaving), Finishing, dan Garment.

Perusahaan ini sudah lumayan tua ya. Sritex berdiri secara resmi tahun 1978. Perusahaan ini juga tergolong tidak kecil dan lumayan tanggung. Menurut laporan keuangan tahun 2019, Sritex mempekerjakan lebih dari 17 ribu karyawan. Pariknya ada di lahan seluas 79 hektar di Sukoharjo, Jawa Tengah. Sritex juga sudah selamat dari krisis ekonomi 1998. 

Jadinya dia sudah bukan semacam start-up yang masih membakar uang di awal pendirian, ya. Makanya saya heran, labanya naik terus tapi dividen-nya tidak mengikuti.

Laba vs Dividen 2015-2019
Nah, ini dia awal penasaran saya. Di atas saya plot laba dengan dividen-nya dari tahun 2015-2019. Laba per tahun dengan garis merah dan dividen dengan garis biru. Angka - angka di grafik saya ambil dari laporan keuangan SRIL.

Dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019, labanya cenderung meningkat. Tapi kenapa dividen-nya, garis yang biru, malah segitu2 saja? Dia malah cenderung menurun. 

Logika simple-nya, kalau laba naik semestinya dividen naik juga dong.

Hipotesis

Untuk menjawab pertanyaan kenapa SRIL pelit dividen, ada 4 hipotesis yang mau saya buktikan: 
  1. Kebanyakan pendapatan tidak dalam bentuk cash. 
  2. Jenis perusahaan padat modal, jadi perlu banyak cash untuk operasi.
  3. Cash dipakai untuk meningkatkan kapasitas, atau investasi.
  4. Cash dipakai untuk bayar hutang.
Hipotesis 1: Kebanyakanan Pendapatan Tidak dalam bentuk cash 
Di grafik di atas saya bandingkan berapa banyak dari penjualan-nya dicatatkan sebagai piutang. Saya plot penjualan tahunan-nya dan bandingkan dengan piutang yang dicatatkan di tahun yang sama. 

Sejauh ini saya rasa bukan ini penyebabnya, karena piutangnya tidak sebegitu tinggi. Kalau saya hitung, rata - rata hanya 20% an dari penjualan. 

Hipotesis 2: Jenis perusahaan padat modal
Di grafik di atas saya bandingkan penerimaan kas dari pelanggan dengan biaya produksi yang paling mendasar yaitu pembayaran kepada pemasok & gaji karyawan. Selain itu, laporan keuangannya masih mencatat biaya operasi lainnya, misalnya pembayaran untuk beban operasional, bunga, dan pajak penghasilan.

Ternyata dari tahun 2015 sampai dengan 2019, selisih antara penerimaan kas dari pelanggan dengan pembayaran kepada pemasok & gaji karyawan-nya tipis. Saya hitung, tiap tahun selisihnya antara 7-21%. Paling rendah di tahun 2019 dengan angka 7.9% dan paling tinggi di tahun 2015 dengan angka 21.46%. Jadi makin ke sininya selisihnya juga enggak tambah kecil ya.

Sepertinya ini penyebabnya, kenapa SRIL pelit dividen.
Perusahaannya padat modal, jadinya untuk produksi tiap tahunnya, perusahaan perlu menyisihkan kas dalam jumlah yang hampir mendekati dengan penerimaan kasnya. Dan, sayangnya ke sininya tidak ada tanda – tanda kalau perusahaannya tambah efisien. Kita lihat biaya produksinya meningkat seiring dengan pertumbuhan penerimaannya. Prosentase selisih antara penerimaan kas dengan biaya produksi juga enggak tambah besar.

Hipotesis 3: Cash dipakai untuk meningkatkan kapasitas
Walaupun kita mungkin sudah menemukan jawaban kenapa SRIL pelit dividen di atas, coba kita lanjut dulu dengan hipotesis ketiga. Siapa tahu ketemu hal menarik lainnya.

Hipotesis ketiga, Cash dipakai untuk meningkatkan kapasitas. Untuk membuktikan, saya bandingkan penerimaan kas dari pelanggan dengan kas yang digunakan untuk investasi.

Seperti kita lihat di grafik di atas, sepertinya porsi kas yang digunakan untuk investasi enggak sebegitu besar ya, jumlahnya sekitar 4-16% tiap tahunnya. Paling tinggi di tahun 2015 dengan angka 16.05% dan paling rendah di tahun 2017 dengan angka 4.18%. Tahun 2019 angkanya dekat sekali dengan tahun 2017, 4.52%. Jadi bisa kita bilang makin ke sininya jumlah cash yang dipakai untuk investasi enggak tambah besar juga ya kalau dibandingan dengan penerimaan kas-nya.

Untuk pertanyaan kenapa SRIL pelit dividen, sepertinya bukan karena cash-nya dipakai investasi.

Hipotesis 4: Cash dipakai untuk bayar hutang
Okay, lanjut ke hipotesis keempat, yaitu cash dipakai untuk bayar hutang. Untuk membuktikan, saya akan bandingkan penerimaan kas-nya dengan pembayaran hutangnya.

Dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019, prosentase pembayaran hutang dibandingkan penerimaan kas dari pelanggan berubah – ubah. Paling tinggi di tahun 2016 dengan angka 40%an, paling rendah di tahun 2018 dengan angka 3%an. Di tahun 2019, prosentase pembayaran hutangnya ada di angka 12%an. 
Sepertinya bukan ini juga masalah utamanya, kenapa SRIL pelit dividen.

Kesimpulan
SRIL pelit dividen karena operasional-nya mahal bahkan kalau ditotal - total, di beberapa kesempatan, jumlahnya melampaui kas yang masuk dari pelanggan. Sritex harus punya bantalan untuk jaga - jaga. Tiap tahunnya dia rutin menyisihkan 20% dari laba-nya untuk dana cadangan. Disamping itu, dia juga punya penghasilan lain – lain. Misalnya dari dividen dan bunga deposito. Penghasilan lain – lain ini yang membuat kas SRIL tidak minus setiap tahunnya.

  1. SRIL layak dikoleksi karena laba konsisten meningkat dan perusahaannya hati – hati atau pruden dalam mengelola keuangan. Perusahaannya lumayan solid.
  2. Tapi, jangan berharap dari dividen-nya. Karena kita belum melihat ada tanda – tanda operasional-nya makin efisien. Jadi jangan juga berharap dividen-nya makin besar ke depannya. Walaupun penjualan dan laba-nya terus meningkat.
  3. Jangan juga berharap dia akan bertumbuh cepat. Kalau kinerjanya masih sama seperti 5 tahun terakhhir ini, dia akan bertumbuh tapi tidak akan sebegitu cepat. Porsi dana yang dipakai untuk investasi tidak sebegitu besar kalau dibandingkan dari penerimaan kas-nya. Jadi sepertinya dia juga tidak sebegitu agresif untuk ekspansi.
Sekian posting saya kali ini. Akhir kata semoga apa yang saya sampaikan disini bisa bermanfaat. Terima kasih banyak sudah nonton, ikutin terus perjalanan saya untuk belajar investasi, ya. Sampai ketemu di posting selanjutnya.


Comments

Popular posts from this blog

Subscriber Request: Analisis Fundamental Saham ACST, bonus ADHI, WSKT, & WIKA Januari 2021

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya, Ratih di Mommy Belluga Investing. Kali ini atas permintaan dari salah satu subscriber di channel YouTube saya , saya akan coba lihat dan Analisa Pt. Ascet Indonusa Tbk, dengan lambang ACST.  Saya lacak, EPS, Dividen, dan PE-nya.  Secara singkat, kesimpulan saya setelah menganalisa dari data yang ada adalah sebagai berikut: ACST perusahaan yang saya rasa saya tidak atau belum nyaman untuk saya beli sahamnya. Perusahaan sepertinya sedang dalam usaha untuk perbaikan internal operasi. Jadinya, saya lebih pilih untuk tidak masuk dulu. Kenapa saya ber-kesimpulan seperti itu? Kalau tertarik, silahkan dibaca terus yah.  Supaya ACST tidak kesepian, dan sebagai perbandingan kondisi sektor infrastruktur, saya sandingkan ACST dengan 3 perusahaan infrastruktur plat merah, yaitu: PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI),  PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan  PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Subscribe ke channel Telegram saya untuk info bl...

Kupas Saham Bank Lokal yang Dikuasai Asing: BTPN, BNGA, NISP

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing. Beberapa waktu lalu saya membeli saham Bank BTPN karena terkesan dengan aplikasi jeniusnya. Nah kali ini saya akan bahas kinerja BTPN untuk menimbang keputusan saya kemarin. Supaya tidak kesepian, saya juga analisa berbarengan dengan dua bank lain yaitu CIMB-NIAGA atau kode sahamnya BNGA dan OCBC-NISP atau kode sahamnya NISP. Kesamaan mereka bertiga adalah mereka adalah Bank lokal tua yang dikuasai Bank – Bank asing.  Di posting kali ini, saya rangkum hasil penelusuran laporan keuangan ketiga Bank tadi selama minimal 5 tahun terakhir. Saya lacak dan plot laba dan dividennya. Saya juga plot price to earning rasio-nya sampai saya tau harga wajar dari saham ketiga perusahaan ini. Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date:  https://t.me/MommyBellugaInvesting    Versi video dari blog ini, "bisa diakses di YouTube:  https://youtu.be/u-qYxiTL-W0 Profil BTPN BTPN i...

Kupas Saham Perusahaan Rokok: HMSP, GGRM, WIIM, RMBA

Halo semuanya, kembali lagi Bersama saya Ratih di Mommy Belluga Investing Posting kali ini di inspirasi dari berita tentang rencana kenaikan cukai rokok sebesar 12.5%.  Berita itu membuat saya tertarik untuk tahu mengenai kinerja perusahan rokok di Indonesia. Supaya tahu, saya baca laporan keuangan 10 tahun belakangan ini dari 4 perusahaan rokok. Perusahan itu adalah: HMSP atau PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. WIIM atau PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan  RMBA atau PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Dari hasil penelusuran, saya bisa simpulkan kalau, dua dari perusahaan rokok ini, HMSP & GGRM, bisa memberikan penghasilan yang stabil dalam bentuk dividen, bahkan lebih tinggi daripada deposito. Yaitu dividen per tahunnya masing – masing sekitar 8 dan 6 persen-an. Wajar kalau investor was was atas berita kenaikan cukai rokok yang kemungkinan menekan laba perusahaan dan pada akhirnya juga menekan dividen. Sedangkan dua yang lainnya, RMBA ...