Skip to main content

Bedah Portfolio Saham 1

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing.

Kali ini saya akan melakukan bagi portfolio saya. Tujuannya:

  1. Sebagai dokumentasi perjalanan saya berinvestasi
  2. Agar, mengumpulkan saran2 dan tips-tips dari master-master investor di kebetulan membaca blog ini.

Ini saya jujur2an, saya berharap semoga nanti portfolio ini terus berkembang.

Versi video dari blog ini, "Bedah Portfolio Saham 1 (Bonus Perbandingan dengan Reksadana Index)" bisa diakses di YouTube: https://youtu.be/hUN85QmkF3A


Portfolio 

Jadi, singkat cerita, di atas ini penampakan portfolio saya, sampai dengan 19 November 2020, yaitu saat blog ini disiapkan.

Portfolio vs Biaya
Saya plot di grafik di bawah:
  1. Garis merah dan tebal itu adalah portfolio saya
  2. Garis biru adalah biaya yang saya keluarkan.
Jadi kalo portfolio saya diatas garis biru, berarti saya masih untung, kalo dibawah, saya rugi.

Kalo dilihat di awal-awal saya beli saham, nilai portfolio saya di bawah biaya. Tapi karena saya belinya, pake duit dingin, saya tidak panik. Saya sempat uraikan bagaimana cara saya mengumpulkan duit dingin. Ini link ke posting "Kapan Siap Beli Saham? Cara Kami Mengatur Keuangan Supaya Siap Investasi Saham".

Selain itu, rugi yang ada di portfolio saya tersebut cuman diatas kertas, jadi tidak jadi kenyataan kalo tidak saya jual. Ini, saya rasa kebetulan juga, saat saya buat video ini, nilai portfolio saya diatas harga modal, atau istilahnya daerah hijau yah. Tapi, situasinya tidak selalu seperti itu. Awal, saya mulai berinvestasi saham sekitar Bulan Mei sampai Juni, beberapa periode, portfolio saya di zona merah.

Portfolio vs Reksadana Indeks


Nah, sekarang, saya coba simulasikan bagaimana performa portfolio saya, dibandingkan  dengan performa reksadana. Ini ilustrasi seandainya kalau uang yang saya tadinya belikan saham, saya belikan reksadana. Dalam hal ini reksadana indeks. Performa reksadana saya plot sebagai garis hijau putus-putus

Kenapa saya, bandingkan dengan reksadana, karena iklan-iklan reksadana lumayan santer di timeline saya. Dan teman-teman sekeliling saya juga banyak yang menabung atau investasi di reksadana. 

Kemudian, kenapa membandingkan dengan reksadana index? 
Ini karena alasan teknikal saja. Karena harga reksadana index seharusnya mengikuti IHSG, jadi saya bisa gampang mengambil datanya di yahoo finance. Sedangkan, untuk reksadana campuran, saya belom tau bagaiman mendapat data hariannya. Sejauh ini biasanya bentuk yang bisa akses itu Cuma laporan kinerja tahunannya. Nanti misalnya saya bisa akses data hariannya, saya akan kompilasi dan buatkan videonya.
 
Kembali ke grafik. Kalau diliat, nilai portfolio saya sedikit lebih tinggi, ketimbang kalo saya belikan raksadana index. Ga sebegitu spektakularnya seh, tapi setidaknya lebih tinggi. Kemudian, performa reksadana index juga lebih sering di sisi positive, dimana nilainya lebih tinggi dari biaya yang dikeluarkan. Kecuali beberapa saat di bulan mei, dan oktober 2020 dan itu juga sebentar. Buat yang ga suka repot, buat riset perusahaan, bisa gampang saja beli reksadana index berkala, buat dapat hasil yang mirip. Tapi karena saya pengen belajar, saya lebih suka liat perusahaan satu-satu.

Transaksi

Kemudian, mungkin juga ada bertanya-tanya. Kenapa nilai portfolio saya lompat-lompat. Yaitu di bulan Mei, Juli, akhir agustus, dan di awal November. Alasannya, itu karena di saat lompatan tersebut, saya ber-transaksi saham. Grafik di atas, yang bagian bawah memberi gambaran transaksi mingguan saya.

Mari kita lihat grafik itu lebih detail:
  1. Transaksi saya belum pernah lebih dari satu juta. 
  2. Karena, rata-rata segitu saja modal "dingin" saya.
  3. Perhatikan juga, transaksi saya tidak teratur, kadang ada banyak jeda2 nya. Di saat jeda saya biasanya mengumpulkan modal, atau saya tidak ada ide mau beli apa, atau riset saya belom selesai.
Evolusi Komposisi Portfolio dari April - November 2020


Di atas ini adalah Evolusi komposisi portfolio saya dari awal mulai investasi di Bulan April tahun ini, Tahun 2020. Grafik warna warni di atasitu menggambarkan komposisi portfolio saya, yang tadinya cuma berisi BBRI, kemudian pelan-belan ditambah TLKM, BJTM, ADMF, INDF, PANS, dan yang terakhir BTPN. Dari kiri adalah bulan April, lalu saya update setiap saya beli saham.
Pie chart di kiri atas adalah komposisi terkini (per 19 November 2020).

Dividen

Nah, sekarang info tambahan lagi. Dividen. Karena saya baru mulai, jadi saya dapat dividen juga masih sedikit. Karena sedikit, saya beri panah warna hijau buat ngebantu ngeliat. Dividen-nya adalah batang tipis warna biru yang susah dilihat karena terlalu kecil. Nilainya Cuma Rp 20 ribu. Kalau misalnya uang yang sama ditabung di tabungan biasa, jumlahnya sudah berkurang 70 ribuan, gara-gara biaya administrasi bank. Kalau deposito, duitnya memang gak berkurang; Tapi, duit segini (Rp 3 jutaan) ga bisa di depositokan. Setahu saya minimal Rp 5 juta. Mungkin fitur semacam fleksi saver bisa digunakan, tapi ya banyak variabel-nya. Lebih rumit membandingkan. Pilihan lain, mungkin uang sejumlah ini bisa taruh di tabungan semacam tabunganku.

Kesimpulan
Uang dingin bantu saya agar tidak panik. Terutama di awal-awal investasi. 

Di layar, kita lihat grafik untung rugi portfolio saya dibandingkan dengan biaya yang saya keluarkan. Kalau angkanya di atas 0, portfolio saya sedang untung. Kalau di bawah 0, dia rugi. Dari grafik ini, kita lihat selama hampir 1.5 bulan pertama, portfolio saya negatif. Kalo saya, tidak cukup bantalan mental, kemungkinan saya sudah ketakutan, dan saya jual.

Selain itu, kita lihat lagi di grafik, ada garis hijau putus – putus. Garis ini mewakili simulasi kalau uang yang sama saya belikan reksadana index. 

Dari segi psikologi, sepertinya lebih aman investasi di reksadana indeks daripada investasi saham, setidaknya yang komposisinya seperti saham saya. Yang mana yang lebih baik, silakan disesuaikan dengan selera kalian. Saya mau belajar juga, jadinya berusaha mengerti saham dan investasi sedikit demi sedikit seberapa adanya duit dingin dan senyaman saya.

Uang dingin itu tidak perlu banyak buat investasi di saham. Semua transaksi saya, relative cukup kecil, yaitu dalam kisaran ratusan ribu. Maksimum Rp 1 juta. Jadi ga terlalu bikin sport jantung. Mungkin gak bakal kaya mendadak. Ya kalau jadi kaya mendadak, itu bonus. 

Sekian posting saya kali ini. Terima kasih banyak sudah membaca, ikutin terus perjalanan saya untuk belajar investasi, ya.
Sampai ketemu di posting selanjutnya.


Comments

Popular posts from this blog

Subscriber Request: Analisis Fundamental Saham ACST, bonus ADHI, WSKT, & WIKA Januari 2021

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya, Ratih di Mommy Belluga Investing. Kali ini atas permintaan dari salah satu subscriber di channel YouTube saya , saya akan coba lihat dan Analisa Pt. Ascet Indonusa Tbk, dengan lambang ACST.  Saya lacak, EPS, Dividen, dan PE-nya.  Secara singkat, kesimpulan saya setelah menganalisa dari data yang ada adalah sebagai berikut: ACST perusahaan yang saya rasa saya tidak atau belum nyaman untuk saya beli sahamnya. Perusahaan sepertinya sedang dalam usaha untuk perbaikan internal operasi. Jadinya, saya lebih pilih untuk tidak masuk dulu. Kenapa saya ber-kesimpulan seperti itu? Kalau tertarik, silahkan dibaca terus yah.  Supaya ACST tidak kesepian, dan sebagai perbandingan kondisi sektor infrastruktur, saya sandingkan ACST dengan 3 perusahaan infrastruktur plat merah, yaitu: PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI),  PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan  PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Subscribe ke channel Telegram saya untuk info bl...

Kupas Saham Bank Lokal yang Dikuasai Asing: BTPN, BNGA, NISP

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing. Beberapa waktu lalu saya membeli saham Bank BTPN karena terkesan dengan aplikasi jeniusnya. Nah kali ini saya akan bahas kinerja BTPN untuk menimbang keputusan saya kemarin. Supaya tidak kesepian, saya juga analisa berbarengan dengan dua bank lain yaitu CIMB-NIAGA atau kode sahamnya BNGA dan OCBC-NISP atau kode sahamnya NISP. Kesamaan mereka bertiga adalah mereka adalah Bank lokal tua yang dikuasai Bank – Bank asing.  Di posting kali ini, saya rangkum hasil penelusuran laporan keuangan ketiga Bank tadi selama minimal 5 tahun terakhir. Saya lacak dan plot laba dan dividennya. Saya juga plot price to earning rasio-nya sampai saya tau harga wajar dari saham ketiga perusahaan ini. Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date:  https://t.me/MommyBellugaInvesting    Versi video dari blog ini, "bisa diakses di YouTube:  https://youtu.be/u-qYxiTL-W0 Profil BTPN BTPN i...

Kupas Saham Perusahaan Rokok: HMSP, GGRM, WIIM, RMBA

Halo semuanya, kembali lagi Bersama saya Ratih di Mommy Belluga Investing Posting kali ini di inspirasi dari berita tentang rencana kenaikan cukai rokok sebesar 12.5%.  Berita itu membuat saya tertarik untuk tahu mengenai kinerja perusahan rokok di Indonesia. Supaya tahu, saya baca laporan keuangan 10 tahun belakangan ini dari 4 perusahaan rokok. Perusahan itu adalah: HMSP atau PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. WIIM atau PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan  RMBA atau PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Dari hasil penelusuran, saya bisa simpulkan kalau, dua dari perusahaan rokok ini, HMSP & GGRM, bisa memberikan penghasilan yang stabil dalam bentuk dividen, bahkan lebih tinggi daripada deposito. Yaitu dividen per tahunnya masing – masing sekitar 8 dan 6 persen-an. Wajar kalau investor was was atas berita kenaikan cukai rokok yang kemungkinan menekan laba perusahaan dan pada akhirnya juga menekan dividen. Sedangkan dua yang lainnya, RMBA ...