Skip to main content

Apa itu Price to Earning Ratio (PE Ratio)?

Halo semuanya,
Jumpa lagi dengan Ratih di Mommy Belluga Investing. Hari ini kita akan membicarakan soal Price to Earning Ratio, singkatannya PE ratio. Saya kesulitan untuk mencari terjemahan dalam Bahasa Indonesia-nya. Bagi yang tau, silakan tulis di kolom komentar.

Disclaimer ya, ini blog amatir dengan riset amatir, tujuannya untuk mendokumentasikan penjalanan saya untuk belajar mengenai investasi saham dari awal. Jadi kalau ada yang punya masukan, silakan tulis di komen. Apa yang saya kemukanan di blog ini jangan dianggap sebagai nasehat keuangan.

Versi video dari blog ini bisa diakses di YouTube melalui link ini: https://youtu.be/YxtP2zoLhco


Price to Earning Ratio secara sederhananya adalah harga saham dibagi dengan laba perusahaan. Jadi se-simple itu. 

Laba per saham ini disebut EPS atau Earning per share, dihitung dengan cara membagi total laba dengan jumlah saham yang beredar. Mau tau lebih banyak apa itu earning per share, silakan liat blog saya sebelumnya: "Apa Itu Earning Per Share (EPS) atau Laba per Saham?"

Walaupun formulanya simple sekali, PE Ratio ini berarti banyak untuk investor, setidak2nya saya. Pengertian saya, PE ratio ini nunjukking seberapa lama waktu untuk saya atau perusahaan balik modal dari investasinya. Jadi, makin kecil PE suatu perusahaan itu making bagus. 

Ilustrasi

Kalau seumpamanya ada perusahaan, namanya perusahaam A, harga sahamnya, misalnya 10 ribu rupiah. Ini misalnya. Earning per share-nya atau laba per sahamnya seribu rupiah. Dari formula tadi, kita bisa hitung 10 ribu rupiah, dibagi dengan seribu rupiah. Jadinya PE-nya sama dengan10.

Seumpamanya laba perusahaan konstan seribu rupiah tiap taun, seperti di grafik. maka dalam waktu 10 tahun, uang yang kita taruh di awal, yaitu saham kita yang seharga 10 ribu rupiah itu akan balik modal. Lewat dari 10 tahun, itu sudah keuntungan. 

Yang tadi itu contoh ideal. Sayangnya, jarang banget suatu perusahaan harga saham dan laba per sahamnya tetap tiap tahunnya, ini yang bikin kenapa PE-nya juga berubah – berubah terus. Ini kenapa, untuk investor, kita perlu mengkompilasi PE perusahaan dalam suatu periode.

Jangka Waktu Penghitungan PE

Ohya, kita bisa melacak dan kompilasi PE rasio saham per tahun, atau juga per kuartal. Untuk yang per-kuartal, idenya jadinya berapa quartal bakal balik modal. Quartal itu 3 bulan ya, artinya satu tahun dibagi 4.

Di blog dan di video, sebelumnya saya nyatakan seperti ini:
Misalnya PE rasio per kuartalnya 40, jadinya balik modal dalam waktu 40 kuartal atau 10 tahun. Jadi PE rasio per kuartal 40 itu setara dengan PE rasio 10 untuk penghitungan per tahun. Dalam waktu satu tahun banyak hal yang bisa terjadi, mulai dari kebijakan perusahaan, kondisi ekonomi, dan sebagainya. Keuntungan kita melacak PE rasio per kuartal adalah kita jadinya tau dampak dari kondisi – kondisi tersebut dengan kinerja perusahaan.

Tapi ternyata, setelah membaca lebih lanjut, penghitungan ini salah. Ternyata PE ratio per kuarter tidak dihitung untuk kuarter itu saja, tapi per tahun yang sedang berjalan. Jadi kalo PE ratio suatu perusahaan di suatu quarter adalah 10, balik modal akan dalam waktu 10 taun. Mohon maaf atas kesalahan pengertian sebelumnya.

Study Kasus: ADIRA Finance (ADMF) dan saingannya BFI Finance (BFIN)

Di bawah ini grafik per kuartal Price to Earning Ratio atau PE rasio Adira Finance dari tahun 2014 sampai kuartal kedua tahun 2020. Grafik ini saya sarikan dari data di POEMS Trading Platform.Kenapa POEMS, karena sejauh ini, saya beli saham lewat POEMS.


Sekarang kita lihat data di grafik. Di kuartal pertama, tahun 2015, ADMF naik drastis melewati angka 20 di kisaran 24. Lalu turun lumayan banyak sampai dengan di bawah 5, bahkan mencapai seputaran 2 setahun kemudian, di kuartal pertama tahun 2016. Apa yang terjadi, saya kurang tahu, bagi yang tahu silakan dibantu memberi pencerahan di komentar.

Setelah itu PE ADMF stabil di seputaran 5, sampai dengan kuartal terakhir tahun lalu, tahun 2019. Di kuartal pertama tahun ini, PE rasio ADMF turun sedikit ke angka 4. Kemudian, naik ke angka 6 di kuartal kedua tahun ini, tapi masih dekat2 dengan 5. Gak sejauh di kuartal kedua taun 2015, yang sampai melewati 20. Seumpamanya, kita ambil rata2 PE-nya 6, artinya saya atau perusahaan bakal balik modal dalam waktu 6 kuartal atau 1 setengah taun. 

Dari segi balik modal, ADMF jadinya ini bagus banget nih perusahaannya. Gak perlu lama2 buat balik modal. 

PE ADMF vs BFI Finance (BFIN)

Sekarang kita bandingin PE rasio antara Adira atau ADMF dengan saingannya, perusahaan pembiayaan lainnya yaitu BFI Finance, atau BFIN. Produk dari kedua perusahaan ini gak sama persis sih, tapi lumayan mirip lah. Sama – sama memberi pinjaman dengan agunan kendaraan bermotor.



Ok, sekarang kita lihat data di grafik. PE BFIN, garis yang berwarna biru, per kuartal sejauh ini berfluktuasi antara seputaran 6 sampai 13. Dari tahun 2014 sampai dengan kuartal kedua tahun 2017, stabil naik turun sedikit di seputaran 6 dan 7. Lalu di kuartal ketiga dan keempat tahun 2017 naik ke 10 dan 11. Trus, turun teratur sampai di 6 lagi di kuartal ketiga tahun 2018.

Yang menarik sekarang, di kuartal keempat tahun lalu, tahun 2019, PE rasio BFIN naik drastis ke sekitaran 13. Lalu turun drastis di kuartal berikutnya, kuartal pertama tahun ini, tahun 2020. Di kuartal kedua tahun 2020, PE rasio BFIN naik lumayan banyak ke seputaran 9. 

Seumpamanya, kita ambil rata2 PE-nya 8, artinya saya atau BFIN bakal balik modal dalam waktu 8 kuartal atau 2 tahun. 

Dari segi balik modal, BFIN bagus. Tapi masih lebih bagus ADMF, karena rata2 PE-nya di seputaran 6.

Kita ringkas ya, Price to Earning Ratio secara sederhananya adalah harga saham dibagi dengan laba perusahaan. Jadi se-simple itu. Walaupun formulanya simple sekali, PE Ratio ini berarti banyak untuk investor, setidak2nya saya. Pengertian saya, PE ratio ini menunjukkan seberapa lama waktu untuk saya atau perusahaan balik modal dari investasinya.

Jadi kesimpulan blog hari ini, dari segi PE rasio atau balik modal, ADMF masih lebih bagus daripada BFIN. Walau keduanya sama – sama bagus.

Ini catatan ya, soal laba dan balik modal. Jarang banget perusahaan ngebagi seluruh labanya ke pemegang saham. Jadi, walaupun misalnya PE rasio-nya per kuartal ADMF itu rata2 6, kita belum tentu balik modal dalam waktu 6 kuartal atau satu setengah tahun. Karena gak semua laba-nya dibagi ke kita, pemegang saham. Biasanya ada bagian dari laba yang ditahan dengan berbagai alasan, misalnya buat jaga2, atau juga labanya ditahan buat siap2 ekspansi dan alasan lainnya.

Bagian dari laba yang dibagikan ke pemilih saham, Namanya dividen. Apa itu dividen, saya bakal bahas di blog selanjutnya. Ini link ke posting "Apa itu Dividen?". 

Dan ini link ke videonya: https://youtu.be/sqqLECXutIM

Terima kasih banyak sudah baca, ikutin terus perjalanan saya untuk belajar investasi, ya. Sampai ketemu di posting saya berikutnya.










Comments

Popular posts from this blog

Subscriber Request: Analisis Fundamental Saham ACST, bonus ADHI, WSKT, & WIKA Januari 2021

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya, Ratih di Mommy Belluga Investing. Kali ini atas permintaan dari salah satu subscriber di channel YouTube saya , saya akan coba lihat dan Analisa Pt. Ascet Indonusa Tbk, dengan lambang ACST.  Saya lacak, EPS, Dividen, dan PE-nya.  Secara singkat, kesimpulan saya setelah menganalisa dari data yang ada adalah sebagai berikut: ACST perusahaan yang saya rasa saya tidak atau belum nyaman untuk saya beli sahamnya. Perusahaan sepertinya sedang dalam usaha untuk perbaikan internal operasi. Jadinya, saya lebih pilih untuk tidak masuk dulu. Kenapa saya ber-kesimpulan seperti itu? Kalau tertarik, silahkan dibaca terus yah.  Supaya ACST tidak kesepian, dan sebagai perbandingan kondisi sektor infrastruktur, saya sandingkan ACST dengan 3 perusahaan infrastruktur plat merah, yaitu: PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI),  PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan  PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Subscribe ke channel Telegram saya untuk info bl...

Kupas Saham Bank Lokal yang Dikuasai Asing: BTPN, BNGA, NISP

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing. Beberapa waktu lalu saya membeli saham Bank BTPN karena terkesan dengan aplikasi jeniusnya. Nah kali ini saya akan bahas kinerja BTPN untuk menimbang keputusan saya kemarin. Supaya tidak kesepian, saya juga analisa berbarengan dengan dua bank lain yaitu CIMB-NIAGA atau kode sahamnya BNGA dan OCBC-NISP atau kode sahamnya NISP. Kesamaan mereka bertiga adalah mereka adalah Bank lokal tua yang dikuasai Bank – Bank asing.  Di posting kali ini, saya rangkum hasil penelusuran laporan keuangan ketiga Bank tadi selama minimal 5 tahun terakhir. Saya lacak dan plot laba dan dividennya. Saya juga plot price to earning rasio-nya sampai saya tau harga wajar dari saham ketiga perusahaan ini. Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date:  https://t.me/MommyBellugaInvesting    Versi video dari blog ini, "bisa diakses di YouTube:  https://youtu.be/u-qYxiTL-W0 Profil BTPN BTPN i...

Kupas Saham Perusahaan Rokok: HMSP, GGRM, WIIM, RMBA

Halo semuanya, kembali lagi Bersama saya Ratih di Mommy Belluga Investing Posting kali ini di inspirasi dari berita tentang rencana kenaikan cukai rokok sebesar 12.5%.  Berita itu membuat saya tertarik untuk tahu mengenai kinerja perusahan rokok di Indonesia. Supaya tahu, saya baca laporan keuangan 10 tahun belakangan ini dari 4 perusahaan rokok. Perusahan itu adalah: HMSP atau PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. WIIM atau PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan  RMBA atau PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Dari hasil penelusuran, saya bisa simpulkan kalau, dua dari perusahaan rokok ini, HMSP & GGRM, bisa memberikan penghasilan yang stabil dalam bentuk dividen, bahkan lebih tinggi daripada deposito. Yaitu dividen per tahunnya masing – masing sekitar 8 dan 6 persen-an. Wajar kalau investor was was atas berita kenaikan cukai rokok yang kemungkinan menekan laba perusahaan dan pada akhirnya juga menekan dividen. Sedangkan dua yang lainnya, RMBA ...