Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing.
Di posting ini kita akan membahas lebih untung mana, taruh uang di deposito atau saham? Di posting sebelumnya mengenai dividen saya sempat menyinggung mengenai deposito. Di posting ini kita akan mengulas kekurangan dan kelebihan deposito dan saham.
Selain itu, kita juga akan simulasikan tiga skenario. Dengan uang 50 juta, mana yang lebih untung:
Deposito
Beli saham BBRI tapi dividennya ditarik
Beli saham BBRI dan dividennya semua dibelikan saham lagi
Kita akan pakai data harga saham dan dividen sebenarnya dari BBRI dan kita plot selama 6 tahun, periode 2013 - 2019. Dan kemudian saya juga akan membagi pertimbangan saya mengenai deposito vs saham.
Disclaimer ya, ini blog amatir dengan riset amatir. Tujuannya, untuk mendokumentasikan penjalanan saya untuk belajar mengenai investasi saham dari awal. Kalau ada yang punya masukan, silakan tulis di komentar. Apa yang saya kemukanan di channel ini jangan dianggap sebagai nasehat keuangan. Mohon melakukan risetnya sendiri sebelum membuat keputusan keuangan dan investasi.
Saya rencananya akan membeli saham dan pegang selama masih masuk akal. Jadi bagi yang jual beli saham atau trading, mungkin apa yang saya kemukakan di video akan kurang sesuai. Tapi kalau tertarik, silakan nonton sampai selesai.
Misalnya kita taruh 50 juta, sampai akhir akan tetap 50 juta. Jumlahnya akan tetap sesuai dengan sertifikat deposito kita.
2. Aman: Pokok dijamin.
Seburuk2nya misalnya Bank collapse, dana dijamin LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan sampai Rp 2 Milyar. Jadi kalo punya 50 juta, enggak usah khawatir karena dijamin. Plafon Rp 2 Milyar ini gak masalah buat saya karena dana saya masih kecil, belum sampai Rp 2 Milyar. Doakan ya, semoga suatu hari ini bakal jadi masalah buat saya.
3. Stabil: Bunga dijamin sesuai sertifikat deposito. Kalau misalnya bunga dijanjikan 5% di sertifikat, dan deposito selama 1 tahun. Selama satu tahun ini akan terima bunga bulanan yang kalau dijumlahkan menjadi 5% dari dana yang didepositokan.
4. Automatic Rollover/ lanjut otomatis.
Ini tidak berlaku untuk semua deposito, beberapa deposito bisa automatic rollover atau lanjut otomatis. Saat periode depositonya habis, deposito akan lanjut ke jangka waktu yang sama seperti sebelumnya tanpa kita perlu melakukan apa – apa. Jadinya misalnya kita bisa taruh uang kita di Bank, set up bunganya masuk ke rekening mana, dan kemudian gak usah dikutik2 sampai perlu dananya.
5. Denda penarikan Ini kekurangan dari deposito. Tapi tidak berlaku untuk semua deposito. Ada beberapa deposito, yang mengenakan denda kalau kita menarik dana sebelum jatuh tempo, ada juga yang tidak.
Tips memilih deposito ala Mommy Belluga.
Saat anda menaruh dana anda, pastikan dana itu dijamin LPS sampai dengan Rp 2 Milyar.
Cari deposito ya bisa perpajangan otomatis atau automatic rollover. Jadi kita tidak perlu pergi ke Bank lagi untuk memperpanjang setiap kali jatuh tempo untuk perpanjangan. Sayang kan, kalau terlambat datang ke Bank atau lupa trus pada saat jatuh tempo dananya mengendap dan tidak berbunga. Bunga adalah bunga, seberapa kecil pun dia.
Cari deposito yang tidak mengenakan denda kalau kita menarik sebelum jatuh tempo. Kalau misalnya kita perlu uangnya segera, kita gak akan kena denda.
Silakan riset sendiri deposito apa yang bunganya bagus, bisa tiga hal tersebut di atas, dan nyaman bagi kalian.
Kelebihan dan Kekurangan SAHAM:
Capital gain atau keuntungan modal. Harga saham bisa naik jadi nilai investasi bisa bertambah. Ada 2 catatan tentang point ini:
Capital gain hanya didapat setelah sahamnya dijual. Sebelum dijual, keuntungann itu cuma di catatan, atau on paper saja. Selisih keuntungan antara harga waktu beli dengan harga setelah jual ini yang biasanya dicari melalui trading. Untuk saat ini saya belum punya kemampuan buat prediksi nilai saham itu bakal naik atau turun. Walaupun udah berdoa kuat2. Jadi daripada mikirin harga naik atau turun, saya lebih fokus ke pertumbungan perusahaan dan dividen. Dan, tidak melakukan trading.
Ada capital gain, atau keuntungan modal; ada juga capital loss atau kerugian modal. Nilai saham bisa turun, dan nilai investasi bisa turun juga. Ini makanya kita perlu riset dan hati – hati dalam memilih saham.
Dividen, mirip bunga deposito. Untuk bbrp perusahaan malah lebih tinggi daripada deposito. Tapi jumlahnya tergantung banyak hal. Hal yang paling berpengaruh adalah kesehatan perusahaan tersebut. Itu makanya kita perlu riset dan hati – hati dalam memilih saham. Pahami perusahaannya dengan baik. Kita harus lihat, saat beli saham itu kita beli satu porsi dari perusahaan tersebut.
Sekarang kita Bahasa sedikit tentang Capital Gain.Misalnya kita taruh uang 50 juta di BBRI di tahun 2013, ini misalnya. Tahun 2013 harga saham BBRI itu adalah di kisaran Rp 1500. Jadinya kita punya sekitar 333 lot. 1 Lot itu 100 saham. Nah, kalau kita punya 333 lot saham BBRI di tahun ini, per harga kemarin tanggal 13 November 2020, nilai investasi kita akan jadi 133 jutaan. Kalau saham itu kita jual semua, capital gain kita akan jadi 133 juta – 50 juta, yaitu sekitar 83 juta.
Kenapa saya pakai kata sekitar, karena harga saham berubah setiap saat, jadi tergantung kapan jualnya.
Ini saham BBRI atau Bank Rakyat Indonesia yang nilai sahamnya terus naik dari taun 2013, kalau nilai sahamnya turun, ya nilai investasi kita juga turun. Bahkan bisa jadi habis atau nol. Makanya saya tekankan lagi, kita perlu riset dan hati – hati dalam memilih saham. Pahami perusahaannya dengan baik sebelum menaruh dana kita.
Study Kasus: Deposito vs Beli Saham BBRI
Skenario 1: Deposito Rp 50 juta di tahun 2013 (asumsi bunga stabil 5% per tahun)
Ayo kita lanjut dengan skenario pertama, Deposito Rp 50jt di Bank tahun 2013, di tahun 2019 jadi berapa?
Yang oranye itu nilai dana kita, yaitu stabil di 50 juta dari tahun 2013 sampai dengan 2019. Yang biru adalah bunga yang didapat per tahun, yaitu Rp 2,5 juta per tahun. Stabil juga. Yang kuning adalah bunga kumulatif, jadinya bunga taun pertama, ditambah bunga taun kedua, dan seterusnya. Di tahun ke-6 bunga keseluruhan yang kita terima dari men-deposito-kan 50 juta tadi adalah Rp 17,5 juta.Secara keseluruhan, uang pokok ditambah bunga jadi Rp 67,5 juta di tahun 2019. Pendeknya, nilai dana pokok tidak berubah dan pasti naik karena bunga dijamin. Plus lagi teratur terima bunga tiap bulan.
Skenario 2: Beli Saham BBRI Rp 50 juta di tahun 2013 (dividen ditarik)
Sekarang kita lanjut dengan skenario kedua, kalau kita investasi atau beli saham BBRI Rp 50 juta di tahun 2013, di tahun 2019 nilai investasi kita jadi berapa kalau dividen-nya kita tarik dan belanjakan untuk hal lain?
Kita pakai data pergerakan harga dan dividen yang sebenarnya lalu kita simulasikan dengan periode 2013 sampai dengan 2019.
Sama dengan grafik deposito di atas, yang oranye itu nilai dana kita, yaitu 50 juta, yang biru adalah dividen yang kita dapat per tahun. Yang kuning adalah dividen kumulatif, jadinya dividen taun pertama, ditambah dividen taun kedua, dan seterusnya.
Di tahun 2013 kita beli saham BBRI seharga 50 juta, yaitu sekitar 333 lot. Di tahun 2014 naik ke sedikit di atas 75 juta. Jadi pegang sahamnya setahun saja sudah dapat untung atau capital gain sebanyak 15 jutaan. Harga saham lumayan stabil sampai dengan tahun 2016. Lalu naik sedikit demi sedikit sampai tahun 2019. Di tahun 2019 investasi kita yang 50 juta tadi sudah jadi sekitar Rp 153 juta. Tiga kali lipat lebih dari investasi awal kita. Kenapa saya pakai kata sekitar, karena harga saham berubah setiap saat.
Lalu kita lanjut dengan dividen, tiap tahunnya berubah ubah sesuai dengan kinerja Bank BRI dan prosentase keuntungan yang dibagikan ke pemegang saham atau pay out ratio. Kita lihat tiap tahun Bank BRI secara konsisten memberi dividen. Secara kumulatif, kalau saham BBRI kita pegang dari tahun 2013 sampai dengan 2019, kita akan dapat dividen total sebanyak sekitar 23 jutaan. Kita bandingkan, kalau tadi bunga deposito kita dapat 17.5 juta. Jadinya pegang saham BRI dari tahun 2013 sampai 2019 memberi lebih banyak dividen daripada simpan uang di deposito yang bunganya 5% per tahun. Ingat lo, investasi awal kita itu 50 juta di tahun 2019, dan di tahun 2019 dividen-nya saja itu hampir setengah nilai investasi kita.
Skenario 3: Beli Saham BBRI Rp 50 juta di tahun 2013 (dividen dibelikan saham BBRI lagi)
Bagaimana kalau kita lebih agresif lagi. Semua dividen yang kita dapat kita investasikan lagi, belikan saham BBRI. Simulasi ini kita hitung dengan asumsi, setiap dividen cair, langsung dibelikan saham BBRI di bulan itu juga.
Sama dengan grafik saham BBRI dan dividen-nya di slide sebelumnya, yang oranye itu nilai dana kita, yaitu 50 juta, yang biru adalah dividen yang kita dapat per tahun. Karena dividen tiap tahun sudah dibelikan saham, dia berubah jadi pokok, dan enggak ada lagi istilah dividen kumulatif karen sudah jadi saham semua. Kalau tiap terima dividen dari BBRI, kita belikan lagi saham BBRI di bulan yang sama, di tahun 2019 nilai sahamnya saja jadi 170 jutaan. Sementara dividen tahun itu jadi Rp 6,8 juta. Nilai total investasi jadi sekitar Rp 176 juta rupiah, sekitar Rp 600 ribu lebih banyak daripada yang dividennya tidak dibelikan saham lagi.
Untuk memudahkan perbandingan, mari kita lihat slide berikutnya. Perbandingan dari ketiga scenario yang sudah kita simulasikan.
Ringkasan Perbandingan
Ini saya ringkas ya, simulasi dari ketiga skenario di atas, semuanya dimulai dari modal yang sama, Rp 50 juta. Tapi di akhir tahun ke 6, hasilnya beda – beda. Yang paling beda adalah taruh uang di deposito vs beli saham BBRI.
Kalau taruh uang di deposito di akhir tahun ke 6, modal tidak berubah, tetap Rp 50 juta rupiah. Sedangkan kalau taruh di saham BBRI, modal naik tiga kali lipat, jadi sekitar Rp 153 juta. Kalau misalnya lebih rajin lagi, semua dividen dibelikan saham lagi, modal akhir bisa naik sampai 170an juta.
Secara kumulatif, antara dividen yang ditarik dengan dividen yang dibelikan saham lagi, bedanya sedikit, hanya sekitar Rp 600 ribuan saja. Dari yang dividennya ditarik jadi Rp 176,2 jutaan, sementara kalau dividen-nya dibelikan saham lagi, nilai investasi total jadi sekitar Rp 176,8 jutaan.
Tapi ada satu hal lagi, dividen-nya dibelikan saham lagi, dia punya kemungkinan untuk berkembang. Kalau di kasus BBRI, bisa jadi 3 kali lipat dalam waktu 6 tahun.Catatan, ini saham BBRI, saham yang kinerjanya bagus. Tapi banyak saham yang kinerjanya gak bagus. Bukannya malah untung, kita bisa rugi. Itu makanya kita perlu riset dan hati – hati dalam memilih saham. Pahami perusahaannya dengan baik sebelum investasi.
Kesimpulan
Investasi saham bisa menggandakan keuntungan, tapi harus diingat, dia bisa juga menggandakan kerugian. Sekali lagi saya tekankan, keliatan untung di simulasi kita kali ini karena ini saham BBRI yang kinerjanya baik.
Simulasi kita kali ini mengilustrasikan seberapa banyak untuk yang bisa kita dapat dari memilih saham perusahaan yang berkinerja baik. Saat kita beli, kita seringkali tidak bisa menebak, harga sahamnya bakal bergerak ke mana, jadi fluktuasinya atau naik turunnya itu tinggi.
Kalau pertanyaanya, saya taruh dana saya di mana? Dan kenapa?
Jawabannya, saya taruh di dua – duanya.Saya belum cukup punya kekuatan mental untuk liat modal saya naik turun secara liar. Makanya saya perlu juga deposito. Di saat yang sama, saya juga sadar, kalau saya pilih saham dengan benar dan riset dengan teliti, nilai investasi saya bisa naik dengan cukup tinggi, lebih tinggi daripada deposito. Yang saya lakukan, deposito memberi modal untuk saya membeli saham. Itu makanya saya Cuma punya uang ratusan ribu untuk beli saham per bulan, tapi setidaknya, modal beli saham itu berasal dari duit dingin.
Bagaimana saya mengatur proporsi uang saya untuk mendapatkan duit dingin, detailnya saya akan bahas di posting berikutnya.
Terima kasih banyak sudah membaca, ikutin terus perjalanan saya untuk belajar investasi, ya. Sampai ketemu di posting selanjutnya.
Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya, Ratih di Mommy Belluga Investing. Kali ini atas permintaan dari salah satu subscriber di channel YouTube saya , saya akan coba lihat dan Analisa Pt. Ascet Indonusa Tbk, dengan lambang ACST. Saya lacak, EPS, Dividen, dan PE-nya. Secara singkat, kesimpulan saya setelah menganalisa dari data yang ada adalah sebagai berikut: ACST perusahaan yang saya rasa saya tidak atau belum nyaman untuk saya beli sahamnya. Perusahaan sepertinya sedang dalam usaha untuk perbaikan internal operasi. Jadinya, saya lebih pilih untuk tidak masuk dulu. Kenapa saya ber-kesimpulan seperti itu? Kalau tertarik, silahkan dibaca terus yah. Supaya ACST tidak kesepian, dan sebagai perbandingan kondisi sektor infrastruktur, saya sandingkan ACST dengan 3 perusahaan infrastruktur plat merah, yaitu: PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Subscribe ke channel Telegram saya untuk info bl...
Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing. Beberapa waktu lalu saya membeli saham Bank BTPN karena terkesan dengan aplikasi jeniusnya. Nah kali ini saya akan bahas kinerja BTPN untuk menimbang keputusan saya kemarin. Supaya tidak kesepian, saya juga analisa berbarengan dengan dua bank lain yaitu CIMB-NIAGA atau kode sahamnya BNGA dan OCBC-NISP atau kode sahamnya NISP. Kesamaan mereka bertiga adalah mereka adalah Bank lokal tua yang dikuasai Bank – Bank asing. Di posting kali ini, saya rangkum hasil penelusuran laporan keuangan ketiga Bank tadi selama minimal 5 tahun terakhir. Saya lacak dan plot laba dan dividennya. Saya juga plot price to earning rasio-nya sampai saya tau harga wajar dari saham ketiga perusahaan ini. Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date: https://t.me/MommyBellugaInvesting Versi video dari blog ini, "bisa diakses di YouTube: https://youtu.be/u-qYxiTL-W0 Profil BTPN BTPN i...
Halo semuanya, kembali lagi Bersama saya Ratih di Mommy Belluga Investing Posting kali ini di inspirasi dari berita tentang rencana kenaikan cukai rokok sebesar 12.5%. Berita itu membuat saya tertarik untuk tahu mengenai kinerja perusahan rokok di Indonesia. Supaya tahu, saya baca laporan keuangan 10 tahun belakangan ini dari 4 perusahaan rokok. Perusahan itu adalah: HMSP atau PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. WIIM atau PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan RMBA atau PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Dari hasil penelusuran, saya bisa simpulkan kalau, dua dari perusahaan rokok ini, HMSP & GGRM, bisa memberikan penghasilan yang stabil dalam bentuk dividen, bahkan lebih tinggi daripada deposito. Yaitu dividen per tahunnya masing – masing sekitar 8 dan 6 persen-an. Wajar kalau investor was was atas berita kenaikan cukai rokok yang kemungkinan menekan laba perusahaan dan pada akhirnya juga menekan dividen. Sedangkan dua yang lainnya, RMBA ...
Comments
Post a Comment