Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing.
Beberapa hari ini nama satu saham sibuk berseliweran di timeline saya, yaitu MCAS yaitu simbol saham dari PT M Cash Integrasi Tbk.
Saya jadi penasaran, ingin tahu lebih lanjut mengenai perusahaan ini. Jadinya saya lacak EPS dan PE perusahaan ini semenjak dia IPO di tahun 2017.
Dari hasil penelusuran, saya temukan kalau saham ini tidak layak untuk saya koleksi, karena:
Laba-nya kurang stabil,
Harga sahamnya kemahalan, dimana peningkatan harganya tidak dibarengi oleh peningkatan laba. Ini membuat saham ini bikin saya was was untuk jangka panjang.
Saya belum bisa melihat prospek perkembangan perusahaan kedepannya, terutama karena saya tidak familiar, produknya susah dimengerti, juga kepemilikan yang lumayan komplex.
Mau tau lebih lengkap, baca terus blog ini sampai selesai. Ohya, jangan lupa untuk subscribe ya, supaya saya lebih bersemangat lagi untuk membuat posting seperti ini.
MCAS ini adalah kode saham dari PT M Cash Integrasi Tbk. Menurut laporan keuangan tahunannya di tahun 2019, PT M Cash Integrasi mengembangkan sebuah model usaha distribusi digital dalam bentuk ekosistem digital yang mampu mengintegrasikan O2O (Online to Offline), aplikasi, dan IoT (Internet of Things). Singkatnya perusahaan ini bergerak di bidang integrasi gaya hidup digital.
Menurut website-nya, perusahaan ini berdiri di tanggal 1 Juni 2010 dan memasuki pasar saham pada tanggal 1 November 2017. Harga penawaran perdana-nya adalah Rp1.385 per lembar saham.
Menurut laporan keuangan tahun 2019, pemilik saham tertinggi adalah PT 1 Inti Dot Com dengan prosentase 18.10%. Sedangkan Pemegang Saham Pengendali-nya adalah PT Kresna Usaha Kreatif dengan prosentase kepemilikan saham sebesar 13.2%. Selain kedua perusahaan tersebut, ada juga perusahaan – perusahaan lain yang memiliki saham di atas 5%, yaitu PT Kresna Karisma Persada, PT Jas Kapita, PT Hero Intiputra, dan PT Nusantara Teknologi Perkasa. Direktur utama PT M Cash Integrasi, Martin Suharlie memiliki 9.39% saham.
Kinerja MCAS
Nah, sekarang kita lanjut melihat angka – angka kinerja MCAS. Kita akan lihat EPS atau Earning per Share dan PE Ratio dan Price to Earning Rasio. Saya juga plot harga nyaman-nya versi saya, berdasarkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Ohya, MCAS sejauh ini belum pernah memberi dividen, jadi saya gak bisa plot perolehan dividen-nya.
Laba Per Saham (2017 – kuartal 3, 2020)
Untuk melihat kinerja MCAS, mari kita lihat laba per saham per kuartalnya di tahun 2017, tahun di mana MCAS masuk bursa saham sampai dengan kuartal ketiga tahun 2020. Pada saat posting ini disiapkan, tanggal 6 Januari 2021, saya hanya punya akses sampai dengan laporan kuartal ketiga 2020.
Grafik di atas, adalah laba per kuartal MCAS. Di grafik saya juga taruh garis hijau, sebagai pertanda perusahaan sedang untung apa rugi. Sekarang mari kita lihat lebih detail.
Di kuartal kedua 2017, beberapa bulan sebelum IPO atau pencatatan saham perdana, MCAS mencatatkan laba sangat tinggi kalau dibandingkan dengan kinerja laba-nya di kuartal setelah itu. Angka yang dicatatkan adalah di atas Rp 500an per saham, bahkan hampir menyentuh Rp 600 per saham. Sekedar pengingat, MCAS masuk bursa saham di bulan November 2017.
Kemudian, cukup ekstrim di kuartal ketiga 2017 MCAS jadi merugi cukup banyak di kisaran minus Rp 600an. Kalau saya berpikir positif, kemungkinan ini anomaly pencatatan. Saya juga bisa salah, kalau saya salah, ini artinya kerugian beneran.
Di kuartal – kuartal berikutnya, sampai dengan kuartal ketiga tahun 2019, laba MCAS berada di kisaran rugi Rp 2, yaitu di kuartal ketiga 2017 dan untung Rp 200an per saham di kuartal keempat 2018.
Kemudian di kuartal pertama 2020, laba MCAS turun lumayan jauh dan merugi di kisaran Rp 200an. Di kuartal kedua dan ketiga 2020, MCAS mencatatkan laba per saham di angka masing – masing Rp 40an dan Rp 180an.
Dari data selama hampir 4 tahun seperti yang bisa kita lihat di grafik, kelihatannya laba perusahaan-nya tidak stabil.
P/E Rasio tiap kuartal (2019 – kuartal 3, 2020)
Sekarang mari kita lihat apakah MCAS masih cukup murah menurut standar saya.
Mengacu pada grafikdi atas, idealnya P/E nya itu berada di antara garis horisontal hijau dan merah. Garis hijau itu kalau PE rasionya pas di angka 10. Jadi, kalau grafik ada di atas haris hijau,artinya perusahaan kemahalan, setidaknya menurut saya. Dan garis merah itu kalau PE rasio-nya nol, jadi kalau grafik ada di bawah merah, artinya perusahaan sedang merugi. Untuk yang perlu pengingat apa itu PE Rasio, silahkan menonton membaca posting saya sebelumnya tentang P/E.
Kalau dilihat P/E per kuartalnya, sepertinya MCAS per kuartal ketiga sudah amat sangat jauh dari harga nyaman saya. PE-nya sudah melampaui angka 70. Angka PE rasio didapat dari harga saham dibagi dengan laba per saham.
Angka PE mencerminkan seberapa cepat pemodal mendapatkan modalnya kembali dari laba perusahaan. Kasarnya, kalau angka 70 berarti dengan harga yang kita bayar saat ini, kita akan balik modal setelah 70 tahun, dengan asumsi bahwa laba-nya stabil sampai 70 tahun ke depan.
Dari situ, saya melihat kalau perusahaannya sudah kemahalan sekali.
Saya berani beli perusahaan dengan PE besar hanya kalau melihat kemungkinan pertumbuhan yang agresif. Sejauh ini, saya belum bisa melihatnya di MCAS. Seperti kita lihat di pembahasan di atas mengenai laba per saham, labanya sejauh ini, sejauh data yang saya punya, kelihatannya kurang stabil. Dan, produknya sendiri, saya tidak familiar, dan menurut saya, susah dimengerti.
Harga Nyaman
Jadi saya, gak berpanjang – panjang, selama 3 bulan terakhir, dari September 2020 sampai dengan awal Januari 2021, harga-nya makin jauh dari harga nyaman saya. Berdasarkan PE-nya di kuartal ketiga 2020, harga nyaman saya berada di kisaran maksimal Rp 270an per lembar saham.
Harga pada saat video ini disiapkan, per tanggal 6 Januari 2020, harga saham-nya berada di Rp 4550. Jadi sudah hampir 17 kali lipat dari harga nyaman saya.
Kesimpulan
PT M Cash integrasi sejauh ini, sejak tahun 2017 tidak membagikan dividen, ya. Tapi untuk perusahaan yang sedang berkembang, saya rasa wajar belum membagikan dividen. Karena modalnya dipakai untuk pengembangan bisnis. Jadi hal ini tidak saya masukkan ke pertimbangan apakah saham ini layak dibeli.
Walaupun demikian, walau juga MCAS sedang hot, heboh, dan beken; singkatnya untuk saat ini, saya tidak masuk dulu ke perusahaan ini. Karena:
Laba-nya kurang stabil.
Harga sahamnya kemahalan, peningkatan harganya saat ini, tidak dibarengi oleh peningkatan laba. Dimana labanya sendiri tidak stabil.
Saya belum bisa melihat prospek perkembangan perusahaan kedepannya, terutama karena saya tidak familiar, dan produknya susah dimengerti.
Terima kasih banyak sudah baca, ikutin terus perjalanan saya untuk belajar investasi, ya. Jangan lupa subscribe, supaya saya lebih bersemangat untuk membuat posting seperti ini. Mohon maaf kalau ada data yang kurang akurat. Kalau ada yang tau bagian mana yang perlu dikoreksi, silakan tulis di komentar. Sampai ketemu di posting selanjutnya.
Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya, Ratih di Mommy Belluga Investing. Kali ini atas permintaan dari salah satu subscriber di channel YouTube saya , saya akan coba lihat dan Analisa Pt. Ascet Indonusa Tbk, dengan lambang ACST. Saya lacak, EPS, Dividen, dan PE-nya. Secara singkat, kesimpulan saya setelah menganalisa dari data yang ada adalah sebagai berikut: ACST perusahaan yang saya rasa saya tidak atau belum nyaman untuk saya beli sahamnya. Perusahaan sepertinya sedang dalam usaha untuk perbaikan internal operasi. Jadinya, saya lebih pilih untuk tidak masuk dulu. Kenapa saya ber-kesimpulan seperti itu? Kalau tertarik, silahkan dibaca terus yah. Supaya ACST tidak kesepian, dan sebagai perbandingan kondisi sektor infrastruktur, saya sandingkan ACST dengan 3 perusahaan infrastruktur plat merah, yaitu: PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Subscribe ke channel Telegram saya untuk info bl...
Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing. Beberapa waktu lalu saya membeli saham Bank BTPN karena terkesan dengan aplikasi jeniusnya. Nah kali ini saya akan bahas kinerja BTPN untuk menimbang keputusan saya kemarin. Supaya tidak kesepian, saya juga analisa berbarengan dengan dua bank lain yaitu CIMB-NIAGA atau kode sahamnya BNGA dan OCBC-NISP atau kode sahamnya NISP. Kesamaan mereka bertiga adalah mereka adalah Bank lokal tua yang dikuasai Bank – Bank asing. Di posting kali ini, saya rangkum hasil penelusuran laporan keuangan ketiga Bank tadi selama minimal 5 tahun terakhir. Saya lacak dan plot laba dan dividennya. Saya juga plot price to earning rasio-nya sampai saya tau harga wajar dari saham ketiga perusahaan ini. Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date: https://t.me/MommyBellugaInvesting Versi video dari blog ini, "bisa diakses di YouTube: https://youtu.be/u-qYxiTL-W0 Profil BTPN BTPN i...
Halo semuanya, kembali lagi Bersama saya Ratih di Mommy Belluga Investing Posting kali ini di inspirasi dari berita tentang rencana kenaikan cukai rokok sebesar 12.5%. Berita itu membuat saya tertarik untuk tahu mengenai kinerja perusahan rokok di Indonesia. Supaya tahu, saya baca laporan keuangan 10 tahun belakangan ini dari 4 perusahaan rokok. Perusahan itu adalah: HMSP atau PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. WIIM atau PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan RMBA atau PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Dari hasil penelusuran, saya bisa simpulkan kalau, dua dari perusahaan rokok ini, HMSP & GGRM, bisa memberikan penghasilan yang stabil dalam bentuk dividen, bahkan lebih tinggi daripada deposito. Yaitu dividen per tahunnya masing – masing sekitar 8 dan 6 persen-an. Wajar kalau investor was was atas berita kenaikan cukai rokok yang kemungkinan menekan laba perusahaan dan pada akhirnya juga menekan dividen. Sedangkan dua yang lainnya, RMBA ...
Comments
Post a Comment