Skip to main content

Punya Uang Rp 100 Ribu Beli Saham Apa Sekarang? ELSA, RUIS, & TBLA

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing.

Kali ini kita akan membahas, kalau punya uang Rp 100 Ribu beli saham apa sekarang.

Posting ini adalah lanjutan dari Seri  Rp100 ribu. Dimana dalam seri ini saya saring perusahaan dengan kriteria harga di bawab 100 ribu rupiah, PE rasio di bawah 10, Operating dan Net Profit Margin positif, dan konsisten membayar dividen selama 5 tahun terakhir. Dari situ, saya ketemu 13 perusahaan. Link ke posting saya sebelumnya mengenai saringan ini. 

8 dari 13 perusahaan itu telah saya bahas di dua posting sebelumnya:
Punya Uang Rp 100 Ribu Beli Saham Apa Sekarang? BJTM & BFIN

Punya Uang Rp 100 Ribu Beli Saham Apa Sekarang? SMDR, NELY & JRPT

Punya Uang Rp 100 Ribu Beli Saham Apa Sekarang? SRIL, MLPT & CLPI

Hari ini saya akan bahas tiga lagi yaitu:

  1. PT. Elnusa Tbk, atau ELSA
  2. PT. Radiant Utama Intersinsco Tbk, atau RUIS 
  3. PT Tunas Baru Lampung Tbk, atau TBLA




Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date: https://t.me/MommyBellugaInvesting  

Versi video dari blog ini bisa diakses di YouTube melalui link ini: https://youtu.be/Zxb3pZa57sw

Kupas ELSA, RUIS, & TBLA

PT. Elnusa Tbk (ELSA)

 


Sekarang kita mulai dari PT. Elnusa Tbk, atau ELSA 
PT. Elnusa Tbk adalah perusahaan lumayan lama, yang berumur lebih dari 50 tahun.  Walaupun perusahaan yang lumayan tua (setidaknya lebih tua dari saya), doi termasuk aktivf di media sosial seperti Instagram, YouTube dan linkedin.

Secara garis besarnya bidang bisnis PT. Elnusa Tbk adalah penyedia solusi total bagi industry energi. Dari hulu ke hilir. Di bagian paling hulu adalah menyediakan layanan survey geologis untuk explorasi cadangan minyak bumi. Kemudian lebih ke hilir,  penyedia jasa produksi, operasi dan perawatan area pengeboran minyak. Lebih hilir lagi menyediakan jasa transportasi dan distribusi. 

PT. Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS).



PT. Radiant Utama Intersinsco Tbk (RUIS). Dari mata awam saya sepertinya adalah salah satu saingan dari ELSA. 

RUIS bergerak di bisnis yang memberikan Jasa pendukung umum untuk Minyak & Gas Bumi dan Sektor Energi lainnya, meliputi: Jasa Konstruksi, Operasional dan Pemeliharaan, Jasa Lepas Pantai, Jasa Pengujian Tak Rusak, Jasa Inspeksi dan Sertifikasi, Perdagangan dan Jasa Penunjang Lainnya 
Walaupun lebih muda dari ELSA, RUIS sepertinya tidak se-aktif ELSA di media sosial.

PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA)


PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) didirikan tahun 1979. Jadi sudah lumayan tua yah. Perusahaan didirikan sebagai anggota kelompok usaha dari Sungai Budi Group. Sungai Budi Group sudah ada dari tahun 1947.

PT Tunas Baru Lampung mulai beroperasi di Lampung pada awal 1975, dimana bergerak di bidang usaha pertanian, dan pengholahan hasil pertanian. Terutama minyak goreng.

Sampai di 2020 TBLA mengelola areal seluas 68 ribu hektar untuk perkebunan kelapa sawit dan tebu yang terdiri dari area tanaman menghasilkan (TM) sawit sebesar 46 ribu hektar dan area tanaman belum menghasilkan (TBM) sawit sebesar 11 ribu Hektar serta 11 ribu hektar tanaman tebu, dengan lokasi perkebunan di wilayah Lampung, Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. 

Nah, sekarang kita lanjut melihat angka – angka kinerja ELSA, RUIS, & TBLA lebih dalam. Kita akan lihat:
  1. EPS atau Earning per Share
  2. PE Ratio atau Price to Earning Rasio, dan 
  3. Dividen-nya selama lima tahun terakhir. 
EPS ELSA, RUIS, & TBLA 2015 - 2019

Untuk melihat performa ketiga perusahaan ini, mari kita lihat laba per sahamnya dari tahun ke tahun (EPS). Untuk yang masih bingung apa itu EPS, bisa mengunjungi penjelasan saya tentang EPS di posting saya sebelumnya


Grafik di atas, membandingkan laba per saham dari ketiga perusahaan. Yaitu ELSA, yang paling atas, RUIS di tengah dan TBLA, yang paling bawah. Di tiap grafik saya juga taruh garis hijau, sebagai pertanda perusahaan sedang untung apa rugi. Sekarang mari kita lihat satu per satu.

Pendapatan ELSA sepertinya menurun dari 2015 sampai 2017. Sejak 2017 tampaknya mulai naik kembali sampai tahun 2019. Dari sini saya tidak ada sesuatu yang janggal yah. Ada kemungkinan naik turunya pendapatan usaha ada kaitannya dengan harga minyak dunia. Tapi ini saya ber-hipotesis aja yah, belum saya gali lebih lanjut untuk membuktikan.  Di laporan tahunan ELSA 2017 sendiri, penurunan sampai di 2017 banyak merupakan dampak penurunan harga minyak dunia. Penurunan harga minyak berdampak investasi di explorasi cadangan minyak baru berkurang. Hal ini juga yang mengakibatkan klien untuk ELSA juga berkurang.

Kemudian RUIS, juga mengalami trend yang sama dengan ELSA. Akan tetapi penurunan sampai 2017 sepertinya lebih dalam. Situasi yang dialamin ELSA juga kita ambil sebagai hal yang bisa menjelaskan penurunan laba dari RUIS sampai 2017.

Selanjutnya TBLA justru mengalami peningkatan laba dari 2015 ke 2017, dan kemudian turun sampai 2019. Dari laporan keuangan tahunan, perusahaan menjelaskan penurunan ini di karenakan penurunan hasil panen. Cuaca kering di atributkan sebagai penurunan hasil panen selama dua tahun terakhir. Saya ingatkan lagi, TBLA bergerak di usaha pertanian, dan pengholahan hasil pertanian. Terutama minyak goreng.

Dari ketiga data ini, sepertinya tidak ada yang merugi selama lima tahun terahir. Sekarang kita lihat, apa efek pandemi ke performa perusahaan.

Laba Per Saham Kuartal (EPS) 2019-2020
Untuk meninjau apa efek pandemi ke ketiga perusahaan ini, mari kita bandingkan EPS per quartalnya. Di grafik di samping ini saya kumpulkan laba per saham dari tiap kuartal selama dua tahun terakhir. 

Sekilas, ketiga perusahaan ini sepertinya mengalami trend pendatapan yang mirip mirip. Turun, drastis di kuartal pertama 2020, meningkat lagi di kuartal kedua 2020, dan turun kembali di kuartal ketiga 2020. 

Di laporan keuangan interim sampai juni, 2020 ELSA sempat menyampaikan bahwa jumlah bisnis berkurang sebagai akibat pandemi. Tetapi laporan keuangan 9 bulan terakhir di 2020 tidak ada menyebut dampak pandemi. Kemungkinan, bisnis sudah kembali berjalan.

Kemudian RUIS, sepertinya mengalami hal yang sama. Pendapatan RUIS sepertinya terpengaruh pandemi. Di kuartal 1 2020, RUIS mencatat kerugian. Di kuartal kedua 2020 pendatatan RUIS melonjak. Ini sepertinya efek tertunda perkerjaan yang di kuartal 1, pindah ke kuartal 2 2020.

TBLA sendiri, sudah mengalamin penurunan pendapatn dari 2019, dan lebih dalam di kuartal 1 2020. Akan tetapi tidak sampai merugi. Di kuartal kedua 2020 pendapatan kembali meningkat, dan turun kembali di kuartal ketiga.

Sekarang mari kita lihat, seberapa keuntungan ini dibagikan ke pemegang saham?

Dividen ELSA, RUIS, & TBLA 2014-2020

Sekarang kita lihat seberapa laba perusahaan dapat dibagikan kepada pemilik, dalam hal ini pemegang saham, yaitu dividen. Untuk yang perlu pengingat apa itu dividen, silahkan membaca blog saya sebelumnya tentang dividen.

Di grafik ini saya cantumkan dividen yang dibagikan ke pemegang saham sebagai garis tebal dengan symbol tebal. Saya juga cantumkan garis tipis yang menandakan laba per sahamnya di tahun yang sama. Di garis dividen, saya cantumkan dua angka untuk tiap titik. Angka yang di atas adalah jumlah dividen per saham dalam Rupiah, kemudian angka di bawahnya adalah prosentase dividen dari laba per sahamnya yang di bagikan. 

Sekarang mari kita lihat satu persatu.  ELSA rajin membagikan dividen, dan besarnya sepertinya setara dengan laba per sahamnya, kecuali di 2014. Mungkin 2014 adalah tahun spesial yah. Saham ELSA berkisar antara 4 sampai 12 rupiah, yang mewakili antara 8 sampai 30 persen laba perusahaan. Kalau dilihat dari prosentase ini sendiri, saya rasa prosentase yang lumayan nyaman. Perusahaan ga ngos-ngosan buat bayar dividen.

Kemudian RUIS, juga saya rasa lumayan wajar dalam pembagian dividen nya. Setidaknya tidak ada keliatan pembayaran yang lebih tinggi dari laba per sahamnya. Dividen RUIS berkisar antar 5 sampai 10 rupiah per saham, tergantung laba. Besaran dividen ini mewakili antara 10 sampai 26 persen laba per saham. Masuk akal menurut saya.

Dan terakhir TBLA. Kalo tahun 2016 dianggap pencilan, -- dimana dividen yang dibagikan lebih tinggi dari laba per saham. Sepertinya jumlah dividen yang dibagikan lumayan wajar. Akan tetapi, dividen 2016 jauh lebih tinggi dari pendapatan per sahamnya. Jadi saya belum yakin ini artinya apa.  Di tahun 2018 ke 2019, juga pendapatan TBLA menurun karena penurunan panen, akan tetapi dividen nya tetap di 25 rupiah. Bagusnya dividen di 2019 cuma 18 % dari laba perusahaan. Jadi tidak terlalu mengkhawatirkan menurut saya.

Setelah kita tahu berapa potensi yang mungkin didapat sebagi pemegang saham, sekarang mari kita lihat apakah sahamnya masih cukup murah untuk dibeli.

Price to Earnings Ratio Kuartal 2019 -2020


Sekarang mari kita lihat dan bandingkan, perusahaan mana yang cukup murah, dengan prospek bagus untuk potensial saya miliki. Mengacu pada grafik, idealnya P/E nya itu berada di antara garis horisontal hijau dan merah. Kalo di bawah merah, perusahaan sedang merugi. Kali di atas haris hijau, perusahaan kemahalan. 

Untuk yang perlu pengingat apa itu PE Rasio, silahkan membaca blog saya sebelomnya tentang P/E Rasio

Kalau dilihat P/E per kuartalnya, sepertinya ketiga perusahaan masih murah untuk di beli ya, semuanya masih di bawah 10. ELSA cenderung lebih murah kesininya, Kemudiah RUIS yang bergerak ke arah mahal. Begitu juga TBLA, sepertinya merangkak makin mahal.

Kesimpulan


Sebagai penutup, disini saya sampaikan zona harga yang saya rasa saya nyaman untuk membeli ketiga perusahaan yang saya review hari ini. 
  • ELSA kalau di bawah Rp. 341 
  • RUIS kalau di bawah Rp. 391 
  • TBLA kalau dibawah Rp. 1011
Sayang sekali untuk ELSA, karena dari saat saya memulai seri 100 ribu ini, sampai saya selesai analisis dan bikin video ini, ELSA sudah merangkak lumayan tinggi, sehingga tidak lagi berada di zona murah untuk saya beli. Batas ELSA adalah Rp 341 per saham.

Per sesi penutupan Jumat kemarin, tanggal 11 Desember 2020, ELSA ada di Rp 368, RUIS di Rp 318, dan TBLA di Rp 805. Jadi per lot-nya ELSA di Rp 36800, RUIS di Rp 31800, dan TBLA di Rp 80500.

Sedangkan RUIS dan TBLA, batasnya adalah di Rp 391 dan Rp 1011. Rp 391 per lembar saham untuk RUIS dan Rp 1011per lembar saham untuk TBLA. Jadi kalau dibandingkan dengan harga kemarin, hari Jumat 11 Desember 2020, harga saham RUIS & TBLA masih dalam zona murah saya. 

Untuk saat ini dana saya sudah menipis, jadinya saya belum beli saham lagi. Tapi kalau saya sudah ada dana masuk lagi, saya akan lihat lagi analisa ini dan putuskan apa saya mau beli saham dari salah satu dari perusahaan ini. Dari segi harga dan dividen sih saya rasa RUIS dan TBLA masih lumayan.

Terima kasih banyak sudah membaca, ikutin terus perjalanan saya untuk belajar investasi, ya. Sampai ketemu di posting saya selanjutnya.





Comments

Popular posts from this blog

Subscriber Request: Analisis Fundamental Saham ACST, bonus ADHI, WSKT, & WIKA Januari 2021

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya, Ratih di Mommy Belluga Investing. Kali ini atas permintaan dari salah satu subscriber di channel YouTube saya , saya akan coba lihat dan Analisa Pt. Ascet Indonusa Tbk, dengan lambang ACST.  Saya lacak, EPS, Dividen, dan PE-nya.  Secara singkat, kesimpulan saya setelah menganalisa dari data yang ada adalah sebagai berikut: ACST perusahaan yang saya rasa saya tidak atau belum nyaman untuk saya beli sahamnya. Perusahaan sepertinya sedang dalam usaha untuk perbaikan internal operasi. Jadinya, saya lebih pilih untuk tidak masuk dulu. Kenapa saya ber-kesimpulan seperti itu? Kalau tertarik, silahkan dibaca terus yah.  Supaya ACST tidak kesepian, dan sebagai perbandingan kondisi sektor infrastruktur, saya sandingkan ACST dengan 3 perusahaan infrastruktur plat merah, yaitu: PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI),  PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan  PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Subscribe ke channel Telegram saya untuk info bl...

Kupas Saham Bank Lokal yang Dikuasai Asing: BTPN, BNGA, NISP

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing. Beberapa waktu lalu saya membeli saham Bank BTPN karena terkesan dengan aplikasi jeniusnya. Nah kali ini saya akan bahas kinerja BTPN untuk menimbang keputusan saya kemarin. Supaya tidak kesepian, saya juga analisa berbarengan dengan dua bank lain yaitu CIMB-NIAGA atau kode sahamnya BNGA dan OCBC-NISP atau kode sahamnya NISP. Kesamaan mereka bertiga adalah mereka adalah Bank lokal tua yang dikuasai Bank – Bank asing.  Di posting kali ini, saya rangkum hasil penelusuran laporan keuangan ketiga Bank tadi selama minimal 5 tahun terakhir. Saya lacak dan plot laba dan dividennya. Saya juga plot price to earning rasio-nya sampai saya tau harga wajar dari saham ketiga perusahaan ini. Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date:  https://t.me/MommyBellugaInvesting    Versi video dari blog ini, "bisa diakses di YouTube:  https://youtu.be/u-qYxiTL-W0 Profil BTPN BTPN i...

Kupas Saham Perusahaan Rokok: HMSP, GGRM, WIIM, RMBA

Halo semuanya, kembali lagi Bersama saya Ratih di Mommy Belluga Investing Posting kali ini di inspirasi dari berita tentang rencana kenaikan cukai rokok sebesar 12.5%.  Berita itu membuat saya tertarik untuk tahu mengenai kinerja perusahan rokok di Indonesia. Supaya tahu, saya baca laporan keuangan 10 tahun belakangan ini dari 4 perusahaan rokok. Perusahan itu adalah: HMSP atau PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. WIIM atau PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan  RMBA atau PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Dari hasil penelusuran, saya bisa simpulkan kalau, dua dari perusahaan rokok ini, HMSP & GGRM, bisa memberikan penghasilan yang stabil dalam bentuk dividen, bahkan lebih tinggi daripada deposito. Yaitu dividen per tahunnya masing – masing sekitar 8 dan 6 persen-an. Wajar kalau investor was was atas berita kenaikan cukai rokok yang kemungkinan menekan laba perusahaan dan pada akhirnya juga menekan dividen. Sedangkan dua yang lainnya, RMBA ...