Skip to main content

Saham yang Gak Beratin Kantong Seri Rp 100-200 Ribu: MNCN & TSPC

Halo semuanya, Kembali lagi bersama saya Ratih di Mommy Belluga investing. Hari ini saya akan kembali membahas lanjutan seri video harga saham nyaman di kantong untuk harga Rp 100-200 Ribu per lot nya. Ada lima perusahaan yang masuk saringan ini, tiga perusahaan, ASRM, BJBR dan EKAD, sudah saya bahas di posting sebelumnya.

Kali ini, saya akan bahas: 

  1. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN)
  2. PT Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

Secara ringkas, kedua perusahaan ini sepertinya patut dipertimbankan. Karena, selama 10 tahun terakhir tidak pernah merugi. Kemudian sepertinya lumayan tahan pandemi. Akan tetapi saya sedikit ragu dengan MNCN, sepertinya ada sedikit masalah dengan perusahaan induknya.

Bagaimana saya sampai ke kesimpulan tersebut? Ikuti terus analisis saya sampai akhir.

Ohya, jangan lupa subscribe dan like ya, supaya saya lebih bersemangat lagi untuk membuat konten – konten seperti ini. 

Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date: https://t.me/MommyBellugaInvesting  

Versi video dari blog ini bisa diakses di YouTube melalui link ini: https://youtu.be/MDjZb8XHsPs
Profil MNCN
Kita mulai dari MNCN. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) saya rasa tidak asing lagi bagi kita semua. Setidaknya angkatan saya ya, yang tumbuh besar Bersama RCTI. RCTI di akusisi oleh MNCN tahun 2004. Akusisi ini setelah MNCN mengakusisi 70% saham GlobalTV tahun 2001.

Dari segi kepemilikan, 65 % sahamnya dipegang oleh PT Global Mediacom Tbk, dan 34.93 % beredar di masyarakat. Yang sedikit menarik disini, induk MNCN yaitu PT Global Mediacom Tbk, juga terdaftar di bursa saham dengan kode BMTR. 

BMTR sempat lumayan ramai masuk di berita karena tahun lalu permohonan pailitnya ditolak oleh Pengadilan Niaga Jakarta Pusat di bulan September 2020.

Profil TSPC
Okay, sekarang lanjut ke TSPC atau Tempo scan. Tempo scan bergerak di bidang usaha farmasi berskala besar dari 1970. Tempo scan juga merupakan anak usaha Tempo yang telah bergerak di usaha farmasi dari 1953. 

Produk produk yang lumayan terkenal dari Tempo scan, antara lain Bodrex, Bodrexin dan Hemaviton. 
Jaringan usaha TSPC lumayan cukup luas, dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Dalam laporan keuangan 2019, pemilik saham terbesar TSPC adalah PT Bogamulia Nagadi sebesar 80.44%. Sisanya sebesar 19.56 % beredar di miliki masyarakat umum.

Nah, sekian sekilas profil perusahaan, sekarang mari kita lihat kinerja kedua perusahaan ini.
Kita lanjut melihat angka – angka kinerja MNCN & TSPC lebih dalam. Kita akan lihat EPS atau Earning per Share, PE Ratio atau Price to Earning Rasio, dan Dividen-nya. Saya juga akan bagi, berapa harga nyaman dari perusahaan – perusahaan ini versi saya.

EPS MNCN & TSPC 2010-2019
Ok mari kita lihat kinerja perusahaan selama 10 tahun terakhir lewat laba per sahamnya atau Earning Per share, di singkat EPS. Untuk yang perlu pengingat apa itu EPS, silakan lihat video dan blog saya tentang EPS.

Ok kita kembali ke grafik, di dalam grafik saya plot laba per saham dari masing masing perusaan sebagai noktah tebal yang dihubungkan dengan garis tebal. Secara keseluruhan, kita lihat kedua perusahaan tidak pernah merugi selama 10 tahun terakhir.

Untuk MNCN, kita lihat laba per saham nya cenderung meningkat selama 10 tahun terakhir. Sempat turun di 2015, tapi setelah itu meningkat kembali sampai 2019. 

Untuk TSPC, laba per saham nya cenderung mendatar. Sempat meningkat sampai tahun 2013, kemudian turun di 2014. Lalu kemudian lumayan mendatar sampai dengan tahun 2019.

Jadi selama 10 tahun terakhir, kedua perusahaan punya operasi yang saya rasa lumayan solid yah. 
Pertanyaan selanjutnya, apa dampak krisis terhadap kinerja perusahaan ini?

Laba Per Saham Kuartal (EPS) 2019-2020
Untuk melihat apa efek krisis terhadap kedua perusahaan ini, terutama masa pandemi di 2020, disini saya plot laba per saham segmen per segmen kuartal. Dimana, noktah-noktah di grafik mencerminkan laba per saham selama tiga bulan. 

Catatan sedikit ya, nilai EPS disini sedikit berbeda dengan yang dilaporkan di laporan kuangan, kecuali untuk kuartal pertamanya. Untuk kuartal selanjutnya, adalah selisih dengan kuartal sebelumnya. Alasannya saya plot seperti itu adalah, laporan keuangan melaporkan dengan format, 3 bulan pertama untuk kuartal pertama, 6 bulan untuk kuartal kedua, dan sembilan bulan untuk kuartal ketiga. Sedangkan, saya tertarik melihat laba di dalam rentang satu kuartal saja. Jadi saya ambil selisihnya di tiap – tiap kuartal.

Secara sekilas, dampak pandemi ke kedua perusahaan sepertinya tidak banyak. Keduanya masih mencatat laba. Jadi saya rasa mereka cukup solid. 
Secara spesifik, laba MNCN lumayan datar selama 7 kuartal terakhir. Ada sedikit penurunan di kuartal pertama 2020, tapi akhirnya naik kembali di kuartal kedua 2020. 

Kemudian TSPC juga tidak ada kerugian di tahun 2020. Labanya sempat meningkat di kuartal pertama 2020, lebih tinggi dari kuartal pertama 2019. Laba di kuartal kedua 2020, turun lebih dari setengah laba kuartal pertama. Tetapi penurunan ini masih mirip dengan penurunan di antara kuartal satu ke kuartal kedua 2019. Jadi sepertinya masih dalam batas-batas wajar.

Kita telah lihat bagaimana kinerja kedua perusahaan ini, selanjutnya mari kita lihat seberapa banyak laba perusahaannya dibagikan kepada pemegang saham?

Dividen 
MNCN & TSPC 2014 - 2019

Ok sekarang kita lihat serapa banyak bagian laba perusahaan yang dibagikan ke pemegang saham, yaitu dividen. Untuk teman-teman yang perlu penjelasan apa itu dividen, saya cantumkan link video dan blog saya tentang dividen.

Ok sekarang mari kita lihat seberapa banyak bagian laba perusahaan yang dibagikan ke pemegang saham sebagai dividen. Kalo ada yang perlu penjelasan singkat tentang apa itu dividen, di deskripsi saya cantumkan link ke penjelasan apa itu dividen dalam bentuk video atau blog.

Jadi di grafik ini saya plot dividen dari masing-masing perusahaan sebagai noktah-noktah tebal, yang dihubungkan dengan garis tebal. Sebagai pembanding, saya juga plot laba per saham nya sebagai garis tipis.

Secara sekilas, kelihatannya dividen yang dibagikan lumayan wajar menurut saya. Kedua perusahaan tidak ada yang membagikan dividen diatas laba nya. Kemudian prosentasi laba yang dibagikan atau payo-out ratio tidak terlalu tinggi yaitu masih dibawah 60%.

Secara spesifik, MNCN membagikan antara 12-50 % labanya sebagai dividen. Walaupun labanya kesininya makin meningkat, prosentase yang dibagikan sebagai dividen semakin kecil. Sampai akhirnya tidak membagikan dividen untuk laba 2019. Dari berita market.bisnis.com, MNCN tidak membagikan dividen untuk memperkuat modal, dan juga untuk mengurangi jumlah hutang. 

Kemudian TSPC, membagikan dividen antara 33 sampai 52% dari laba per saham selama 5 tahun terakhir. Saya rasa, ini cukup wajar, karena tidak terlalu memeras perusahaan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah saya ada prospek untuk memiliki perusahaan ini?

PE Rasio Kuartal 2019 - 2020
Ok untuk melihat apakah perusahaannya cukup murah untuk saya beli, saya pakai Price to Earning Ratio, singkatnya PE. Di timeline saya sering disebut PER. Kalo teman-temen perlu perlu refresher tentang PE, silakan klik link ke video dan blog saya.

Di grafik ini saya plot PE selama 8 kuartal terakhir. Angka PE nya saya plot sebagai noktah-noktah tebal yang dihubungkan dengan garis tebal. Kemudian saya juga kasi garis hijau dan merah putus putus untuk menandakan PE 10 dan PE nol. Saya rasa perusahaan cukup ada prospek untuk saya beli kalau PE nya diantara kedua garis tersebut. 

Secara sekilas, kedua perusahaan ini sampai kuartal ketiga 2020 cukup memenuhi kriteria tersebut yah. 
Lebih detailnya, MNCN selama 8 kuartal terakhir berada di kedua batas itu. Makin turun dari kuartal pertama sampai kuartal ketiga 2020, ke angka sekitar 5. Jadi semakin menarik.

Kemudian, TSPC, sebelum 2020, PE nya bolak-balik di angka 10. Tapi turun sekali ke angka 4 sebelum naik kembali mendekati 10. 

Jadi sampai disini dari segi PE kedua perusahaan masih cukup menarik.

Zona Harga Nyaman
Kemudian sebarapa harga nyaman saya untuk masuk seandainya saya ada dana?

Di layar saya plot harga saham dari September 2020 sampai dengan Januari 2021. Saya plot sebagai garis tebal. Dan garis merah putus-putus adalah batas atas harga nyaman saya.

Untuk MNCN, batas atas harga nyaman saya adalah 1467 rupiah. Per Jumat, tanggal 15 Januari 2021, pada saat video ini disiapkan, Harga MNCN berada di kisaran Rp 1200an per lembar saham. Masih di dalam zona nyaman saya.

Untuk TSPC, batas atas harga nyaman saya di 1466 rupiah. Dan sepertinya di akhir 2020, batas itu sudah 2 kali jebol. Per Jumat, tanggal 15 Januari 2021, pada saat video ini disiapkan, Harga TSPC berada di kisaran Rp 1700an per lembar saham. Sudah di atas zona nyaman saya.

Kesimpulan
Ok dari analisis kinerja perusahaan dan bagaimana pendapat pasar, saya rasa kedua perusahaan cukup menarik.
  1. Dari segi kemampuan mencetak laba, kedua perusahaan tidak ada yang merugi selama 10 tahun terakhir. 
  2. Kemudian laba yang dibagikan ke pemegang saham sepertinya cukup masuk akal, tidak memeras perusahaan.
  3. Dari segi valuasi, PE nya masih di area nyaman saya. Jadi nilai tambah. 
  4. MNCN harganya masih di dalam zona nyaman saya, sedangkan TSPC sudah di luar zona nyaman saya.
Sekian dulu posting saya hari ini, somoga bisa bermanfaat, sampai ketemu lagi di posting selanjutnya. Jangan lupa subscribe dan like, supaya saya lebih bersemangat lagi untuk membuat konten – konten seperti ini. 

Apa Itu Earning Per Share (EPS) atau Laba per Saham?





Comments

Popular posts from this blog

Subscriber Request: Analisis Fundamental Saham ACST, bonus ADHI, WSKT, & WIKA Januari 2021

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya, Ratih di Mommy Belluga Investing. Kali ini atas permintaan dari salah satu subscriber di channel YouTube saya , saya akan coba lihat dan Analisa Pt. Ascet Indonusa Tbk, dengan lambang ACST.  Saya lacak, EPS, Dividen, dan PE-nya.  Secara singkat, kesimpulan saya setelah menganalisa dari data yang ada adalah sebagai berikut: ACST perusahaan yang saya rasa saya tidak atau belum nyaman untuk saya beli sahamnya. Perusahaan sepertinya sedang dalam usaha untuk perbaikan internal operasi. Jadinya, saya lebih pilih untuk tidak masuk dulu. Kenapa saya ber-kesimpulan seperti itu? Kalau tertarik, silahkan dibaca terus yah.  Supaya ACST tidak kesepian, dan sebagai perbandingan kondisi sektor infrastruktur, saya sandingkan ACST dengan 3 perusahaan infrastruktur plat merah, yaitu: PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI),  PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), dan  PT Wijaya Karya Tbk. (WIKA). Subscribe ke channel Telegram saya untuk info bl...

Kupas Saham Bank Lokal yang Dikuasai Asing: BTPN, BNGA, NISP

Halo semuanya, jumpa lagi dengan saya Ratih, di Mommy Belluga Investing. Beberapa waktu lalu saya membeli saham Bank BTPN karena terkesan dengan aplikasi jeniusnya. Nah kali ini saya akan bahas kinerja BTPN untuk menimbang keputusan saya kemarin. Supaya tidak kesepian, saya juga analisa berbarengan dengan dua bank lain yaitu CIMB-NIAGA atau kode sahamnya BNGA dan OCBC-NISP atau kode sahamnya NISP. Kesamaan mereka bertiga adalah mereka adalah Bank lokal tua yang dikuasai Bank – Bank asing.  Di posting kali ini, saya rangkum hasil penelusuran laporan keuangan ketiga Bank tadi selama minimal 5 tahun terakhir. Saya lacak dan plot laba dan dividennya. Saya juga plot price to earning rasio-nya sampai saya tau harga wajar dari saham ketiga perusahaan ini. Subscribe ke channel Telegram saya untuk info blog dan video ter-up to date:  https://t.me/MommyBellugaInvesting    Versi video dari blog ini, "bisa diakses di YouTube:  https://youtu.be/u-qYxiTL-W0 Profil BTPN BTPN i...

Kupas Saham Perusahaan Rokok: HMSP, GGRM, WIIM, RMBA

Halo semuanya, kembali lagi Bersama saya Ratih di Mommy Belluga Investing Posting kali ini di inspirasi dari berita tentang rencana kenaikan cukai rokok sebesar 12.5%.  Berita itu membuat saya tertarik untuk tahu mengenai kinerja perusahan rokok di Indonesia. Supaya tahu, saya baca laporan keuangan 10 tahun belakangan ini dari 4 perusahaan rokok. Perusahan itu adalah: HMSP atau PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. GGRM atau PT Gudang Garam Tbk. WIIM atau PT Wismilak Inti Makmur Tbk., dan  RMBA atau PT Bentoel Internasional Investama Tbk. Dari hasil penelusuran, saya bisa simpulkan kalau, dua dari perusahaan rokok ini, HMSP & GGRM, bisa memberikan penghasilan yang stabil dalam bentuk dividen, bahkan lebih tinggi daripada deposito. Yaitu dividen per tahunnya masing – masing sekitar 8 dan 6 persen-an. Wajar kalau investor was was atas berita kenaikan cukai rokok yang kemungkinan menekan laba perusahaan dan pada akhirnya juga menekan dividen. Sedangkan dua yang lainnya, RMBA ...